Kamis, 2 Oktober 2014

Otomotif


Suzuki Paling Siap Produksi Mobil Murah

Penulis: AGung Kurniawan | Senin, 26 Oktober 2009 | 08:33 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : Kompas.com/Zulkifli BJ

Komponen mesin di pabrik perakitan Suzuki, Bekasi.

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) selaku produsen mobil Suzuki di Indonesia tampak paling siap memproduksi mobil murah dan ramah lingkungan (low-cost & eco car) seperti yang tengah dicanangkan pemerintah. Sebab, pabrikan saat ini telah memiliki teknologi siap pakai dan tinggal perlu pengembangan.

Memang, sebelumnya pihak Grup Indomobil menyatakan tak tertarik untuk memproduksi mobil murah. Hal ini kemudian direvisi Suzuki. Pasalnya, kepemilikan saham Suzuki di Indonesia saat ini sudah mencapai 90 persen sehingga dapat memegang kendali penuh strategi bisnis perusahaan.

Presiden Direktur SIM Yoshiji Terada menjelaskan, pabrikan juga tengah menunggu keputusan dari Pemerintah Indonesia terkait kebijakan produksi mobil murah tersebut. Untuk mesin, lanjut dia, Suzuki telah memiliki beberapa kandidat yang akan diaplikasikan pada produk mobil murahnya itu, yakni K10B, K12B, dan K14B.

"Kita sudah punya mesinnya, kompetitor lain belum ada. Sekarang masih dalam penelitian lebih lanjut, mesin mana yang akan digunakan nantinya, tergantung kebutuhan," ujar Yoshiji di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sekadar mengingatkan, K10B merupakan mesin yang diaplikasikan pada produk New Karimun, berkapasitas 998 cc tiga silinder, mempunyai tenaga 68 dk pada 6.200 rpm dan torsi 90 Nm pada 3.500 rpm. Adapun K12B merupakan mesin yang juga digunakan pada Swift, berkapasitas 1.200cc (bertenaga 90 bhp dan torsi 118 Nm) empat silinder. Sementara itu, K14B, kata Yoshiji, merupakan hasil bore-up dari mesin empat silinder sebelumnya.

Ada wacana, kebijakan mobil murah harus memenuhi beberapa kriteria, antara lain mengonsumsi bahan bakar minimal 1 liter per 22 kilometer, harga Rp 70 juta per unit, dan kandungan lokal minimal 60 persen. Pihak Suzuki mengaku tak keberatan dengan ketentuan tersebut.

"Kalau benar ada insentif luxury tax (pajak barang mewah atau PPnBM) dihapuskan, harga Rp 70 juta masih sulit tercapai. Tapi kalau Rp 80 juta masih bisa. Kalau supplier lokal 60 persen, kami yakin bisa memenuhi itu. Masalah konsumsi bahan bakar sudah lebih terbukti lagi. Di dunia, Suzuki sudah terkenal dengan produksi mobil kecilnya, seperti Wagon-R di Jepang," papar Yoshiji.

Sebelum Suzuki, pihak Grup Astra mengaku juga tertarik untuk memproduksi mobil murah dengan mengedepankan kolaborasi Toyota-Daihatsu. Bahkan, pihak Astra mengaku siap menggelontorkan dana senilai 100 juta dollar AS untuk memproduksi mobil baru jika memang menjanjikan.

Prijono Sugiarto selaku Direktur PT Astra Internasional Tbk menyatakan, diperlukan waktu paling kurang dua setengah tahun untuk mempersiapkan produksi mobil baru. Langkah konkret pemerintah mengeluarkan kebijakan mobil murah harus segera diwujudkan dengan perhitungan matang.

"Mudah-mudahan kerja sama Toyota-Daihatsu berlanjut lagi. Keduanya sudah membuktikan kesuksesannya," ujar Prijono di Karawang, belum lama ini.


Editor :