Kamis, 17 April 2014

Otomotif


Tes Kijang Innova Diesel Transmisi Manual: Nyaman, Mantap, dan Irit!

Penulis: Zulkifli BJ | Jumat, 15 Mei 2009 | 10:38 WIB
|
Share:
  • Sumber : - | Author : Kompas.com/Zulkifli BJ

    Kijang Innova Diesel mengkonsumsi biosalar standar.

  • Sumber : - | Author : Kompas.com/Zulkifli BJ

    kcepatan rata-rata 70 km/jam, gigi 5 dan putaran 2.000 rpm.

  • Sumber : - | Author : Kompas.com/Zulkifli BJ

    Tes melalui jalanan macet berat!

  • Sumber : - | Author : Kompas.com/Zulkifli BJ

    Santai pada gigi 3, kecepatan 35 km/jam dengan putaran mesin 1.800 rpm.

KOMPAS.com — Kalau tidak biasa, banyak orang tidak bisa membedakan antara Kijang Innova bensin dan diesel. Pasalnya, mesin diesel common rail yang digunakan Innova, suaranya sangat halus. Getarannya juga rendah, terutama bila dibandingkan dengan mesin diesel konvensional.

“Akibatnya, banyak orang keliru. Ketika ke SPBU, mengisi di bagian bensin,” ujar Rouli H Sijabat, PR PT Toyota Astra Motor. “Salah satu cara paling gampang memperhatikannya, di samping depan kanan dan kiri, ada tulisan D4D. Ini menandakan mesin diesel,” ujarnya. Dan tentu saja bisa ditambahkan lagi, di sisi kanan pintu belakang ada tanda ”2,5 (disertai E atau G, sesuai varian).

Serasa Bensin. Kondisi tersebut terbukti ketika Rouli menyerahkan satu unit Kijang Innova Diesel keluaran September 2008 dengan pemakaian sudah mencapai 15.000 km. “Dipinjam banyak teman media. Dibawa ke mana-mana,” ungkap Rouli.

Suara mesin lebih halus. Getarannya lebih rendah dibandingkan mesin diesel konvensional. Knalpot juga tidak “ngebul”, sama seperti mesin bensin.

Namun, begitu diperhatikan lebih cermat, ciri khas mesin diesel masih ada. Suara mesin—dibandingkan dengan bensin—masih kentara. Getarannya masih bisa dirasakan. Namun, begitu masuk ke interior dan semua pintu serta kaca ditutup, kondisinya sama saja dengan Innova bensin. Kondisi ini sekaligus menggambarkan Toyota berhasil mengisolasi suara dan getaran mesin yang memang sudah rendah, menjalar sampai ke interior.

Lantas, dengan muatan pengemudi dan dua penumpang, KOMPAS.com mencoba langsung start dengan gigi dua. Tujuannya, untuk membuktikan torsi besar yang dihasilkan mesin pada putaran rendah! Hasilnya, begitu pedal gas ditekan, mobil jalan dengan mulus atau tidak ada gejala “gemetaran”. Itu membuktikan, mesin diesel ini punya torsi besar dan bisa diperoleh pada putaran rendah. Putaran mesin pun beranjak dari 1.000 rpm ke 1.200 rpm dengan mulus!  

Biosolar. Selama ini, untuk mesin diesel common rail, yang dikhawatirkan pemilik atau calon pemiliknya adalah untuk memperoleh bahan bakar diesel dengan kadar sulfur rendah. Selain harganya mahal—paling mahal dibandingkan dari bahan bakar lainnya—bahan bakar itu juga susah memperolehnya.

“Selama ini pakai solar biasa. Isi saja dengan solar biasa,” ungkap Rouli. Kami pun mengisi dengan biosolar yang sekarang sudah menjadi standar bahan bakar diesel di Indonesia. Dan tentu saja, ada keuntungan ekonomi, harganya sama dengan premium.

Performa Innova Diesel ini pun dicoba di jalan tol. Awalnya memang kurang begitu gesit. Sedikit kesabaran menunggu, setelah putaran mencapai 1.400 rpm, tarikan terasa kencang, dan makin responsif setelah mencapai putaran 2.000 rpm.

MPV ini melaju dengan suara halus pada kecepatan 70 km/jam, gigi lima, dengan putaran mesin 2.000 rpm. Ini menggambarkan mesin diesel Innova bertenaga. Dengan putaran rendah, tentu saja konsumsi bahan bakar irit. Bahkan, ketika situasi lalu lintas agak merayap, pada gigi 3, putaran 1.800 rpm, mobil ini melaju mantap pada kecepatan 35 km/jam.

Konsumsi Solar.  Selama tes, posisi jarum indikator bahan bakar diperhatikan secara cermat. Setelah jarak tempuh 100 km, jarum indikator masih pada garis paling atas indikator bahan bakar. “Kok kagak turun-turun?”

Akhirnya, diukur. Pada kecepatan rata-rata 70 km/jam, gigi 5 untuk jarak 90 km, menghabiskan solar 5,6 liter. Berarti konsumsi solarnya 16 km/liter. Irit juga ya!

Selanjutnya, dkombinasikan dengan kondisi lainnya, dengan jarak tempuh 202 km. Hasilnya, konsumsi bahan bakar 14,7 liter. Penasaran, bagaimana konsumsi jika melalui kondisi lalu lintas yang macet berat. Hasilnya, untuk jarak 46,8 km menghabiskan solar 3,710 liter. Berarti, konsumsi bahan bakarnya 12,6 km/liter. 

Dengan konsumsi bahan bakar yang irit, dibandingkan dengan mesin bensin berkapasitas lebih rendah, dan harga biosolar sama dengan premium, keuntungan ekonomi lebih besar pun diperoleh dari Innova Diesel.

Dilengkapi CC. Informasi tambahan yang diperoleh KOMPAS.com dari Iwan Abdurachman, Bagian Training  PT TAM, mesin diesel common rail Innova dengan kode 2KD-FTV, yang juga dilengkapi turbocharger ini, telah memenuhi standar emisi Euro-2. “Versi terbaru, 2007, dilengkapi dengan catalytic converter (cc),” ujarnya. Ditambahkan juga, ada penyetelan pada komputer mesin dan komponen lain. Dengan kondisi seperti itu, mesin diesel sekarang terbukti lebih andal!

“Kita juga sudah membuktikan penggunaan berbagai jenis bahan bakar diesel standar Pertamina (bukan Pertamina Dex), mulai dari Aceh sampai ke Jakarta, tak ada masalah dengan Kijang Diesel. Semuanya berjalan lancar,” ungkapnya. Hal ini sekaligus menepis asumsi negatif mengenai mesin diesel common rail ketika Innova diperkenalkan pada 2004.

“Kita memang sempat menghentikan produksi Innova Diesel karena adanya komplain masalah kualitas solar yang tersedia. Namun, setelah dikembangkan, versi terbaru yang diperkenalkan pada 2007, tak ada lagi masalah,” beber Rouli Sijabat.

Karena faktor tersebut itu pula, kendati harga Innova Diesel lebih mahal sekitar Rp 15 juta (untuk setiap varian) dari versi bensin, kini peminatnya makin banyak. Penjualannya terus meningkat.

Ketika mampir di Mobil 88 mencari Innova Diesel transmisi otomatik, Leovan Widjaja, General Manager Mobil 88, berkomentar, “Innova Diesel otomatik? Mencarinya setengah mati. Pemiliknya orang unik. Mereka tak akan mau menjual dan menggunakan sendiri. Buktinya, mereka berani beli dengan harga lebih mahal dibandingkan versi bensin.”   


Editor :