Jumat, 28 November 2014

Otomotif


Kreativitas Pembelajaran Matematika Terus Berkembang

Penulis: Ester Lince Napitupulu | Kamis, 26 Maret 2009 | 16:44 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Siswa kelas I dan II SD menyelesaikan soal matematika dalam Kompetisi Mental Aritmatika dan Matematika Imaria Tingkat Jateng-DIY di Kompleks Tamansiswa Yogyakarta, Minggu (15/2). Kompetisi diikuti 38 SD dan 14 TK dengan total jumlah peserta mencapai 1.098 siswa.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kreativitas pembelajaran Matematika yang mudah dan menyenangkan perlu terus dikembangkan. Karena itu, Matematika mesti diajarkan secara menarik dan terhubung dengan dunia nyata sehingga siswa senang.

"Belajar Matematika itu bukan sekedar mengajarkan anak tahu berhitung dan mengasah logika anak. Tetapi Matematika itu juga bisa dimanfaatkan untuk mengasah kreativitas otak yang dibutuhkan seseorang untuk berhasil dalam hidup," ujar Stephanus Ivan Goenawan, pengajar di Universitas Atmatajaya Jakarta, Kamis (26/3), di Jakarta.

Ivan menciptakan konsep pembelajaran Matematika yang dinamakannya metode horisontal. Metode horisontal ini merupakan metode perhitungan di mana proses penyelesaian dilakukan secara mendatar (horisontal) dari arah kanan menuju ke kiri. Bilangan desimal biasa dikonversi dengan notasi pagar (I).

Upaya untuk mengenalkan konsep pembelajaran matematika dengan cara tidak konvensional yang selama ini menggunakan metode vertikal dilakukan dengan menggelar olimpiade kreativitas angka yang diikuti siswa SD hingga perguruan tinggi. Menurut Ivan, cara ini untuk mengembangkan kreativitas seseorang karena potensi kreativitas dapat diasah melalui angka dengan cara mengenali keteraturan polanya.

"Bila daya kreativitas angka meningkat maka daya ini dapat berimbas ke jenis kreativitas yang lain, seperti pada pelajaran sekolah, seni, strategi atau intuisi bisnis atau ilmu pengetahuan," ujar Ivan.

Pengembangan metode belajar Matematika untuk membantu proses penghitungan yang cepat sehingga membuat anak tertarik belajar Matematika juga sebelumnya dilakukan Septi Peni Wulandani dengan metode jaritmatika. Penghitungan dilakukan dengan memanfaatkan tangan kanan yang diibaratkan tangan satuan dan tangan kiri sebagai tangan puluhan.

S Hamid Hasan, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia, mengatakan untuk menciptakan pembelajaran Matematika yang selama ini dianggap masih momok buat siswa sehingga menjadi menyenangkan, perlu kreativitas guru tersebut. Guru bisa saja memanfaatkan metode pembelajaran Matematika yang berkembang di luar kelas jika memang bisa membantu terciptanya belajar matematiak yang menyenangkan.

"Apalagi jika metode belajar Matematika yang inovatif itu hasil pemikiran anak bangsa, kenapa tidak untuk juga bisa diperkenalkan sebagai salah satu metode belajar. Yang penting, anak-anak paham konsep belajar MAtematika dan bisa menggunakannya untuk kehidupan," kata Hamid.


Editor :