Selasa, 2 September 2014

Otomotif


Natal Wujud Kasih Tuhan kepada Manusia Berdosa

Penulis: I Made Asdhiana | Rabu, 24 Desember 2008 | 21:35 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Pengunjung melihat Patung Goa Natal karya pematung lokal di Toko Rohani Obor, Jakarta, Selasa (23/12). Patung-patung rohani itu bermutu baik dan harganya terjangkau dibanding produk impor.

ATAMBUA, RABU - Pimpinan Gereja Katolik  Atambua, Uskup Dominikus Saku PR dalam khotbah Natalnya mengatakan, kelahiran Yesus Kristus, Allah selaku pencipta alam semesta yang telah merendahkan dirinya sama seperti manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa.

"Natal merupakan ujud kasih Tuhan kepada umat manusia yang berdosa. Tuhan datang menjenguk manusia yang dalam keadaan kacau, dengan menjadikan dirinya sama seperti manusia," katanya di hadapan ribuan umat Katolik Atambua, Rabu (24/12) malam.

Menurut Uskup, Allah sedemikian peduli terhadap umat manusia ciptaan-Nya. Meskipun manusia telah jatuh dan bergelimang dosa, tetapi Allah tetap mengasihinya sehingga untuk menyelamatkan manusia dari dosa itu, Allah rela menjelma menjadi manusia. Manusia yang tidak layak karena dosa-dosa serta perbuatan jahat atau pun pemberontakannya terhadap Allah, dilayakkan dengan menganugerahkan putranya Yesus Kristus. "Allah menjadikan diri-Nya sedemikian rendah seperti manusia, semata-mata untuk menyelamatkan kita umat manusia yang berdosa ini," katanya.

Dikatakannya, kehinaan Allah yang merendahkan diri dengan mengambil rupa manusia itu, tidak mendapat tempat yang layak untuk membaringkan diri, dan harus terlahir di palungan kandang domba. Betapa Allah mau dan rela menjadikan dirinya terhina demi keselamatan umat manusia berdosa. "Sejahat apa pun manusia berdosa itu, Allah senantiasa berkenan untuk menerimanya dalam pertobatannya," katanya.

Sementara itu,  pimpinan Gereja Policarpus Atambua, Pdt Viktor Nenukhai menyatakan  Natal merupakan suatu gerakan perubahan untuk menuju kebaikan. Natal yang merupakan perayaan atas peringatan kelahiran Yesus Kristus menuntut suatu perubahan sikap hidup, pola pikir yang dikehendaki Allah, dan tidak lagi hidup menuruti keinginan daging serta nafsu duniawi. "Dengan penebusan-Nya atas kita umat berdosa, maka kita umat-Nya dituntut untuk berubah, tidak lagi hidup menuruti keinginan daging yang menjurus pada kebinasaan," ujarnya.

Jumlah gereja di Atambua yang merayakan malam Natal relatif sedikit, seperti Gereja Katolik, Gereja Protesten Polycarpus dan Gereja Bethel Indonesia. Sedangkan Gereja Pantekosta dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya hanya melaksanakan kebaktian Natal pada Kamis pagi.

Situasi keamanan pada perayaan malam Natal di Atambua cukup aman, kondusif dan tidak ada peristiwa menonjol. Suasana Natal di kota ini juga diwarnai dengan petasan rakitan yang menggunakan  korek api serta kembang api. 


Editor :