Kamis, 31 Juli 2014

Otomotif


Prabowo, Sang "Rising Star" yang Kembali

Penulis: Inggried Dwiwedhaswary | Selasa, 15 Juli 2008 | 09:54 WIB
|
Share:
Sumber : - | Author : KOMPAS/ LUCKY PRANSISKA

Prabowo Subianto

JAKARTA, SELASA - Pada era Orde Baru, siapa tak kenal Prabowo Subianto? Selain dikenal sebagai menantu penguasa Orba, Soeharto, ia juga dikenal sebagai petinggi militer yang disegani. Kini ia kembali. Mulai diproklamirkan sebagai salah seorang calon presiden yang siap bertarung pada arena Pemilihan Presiden 2009 mendatang. Apa yang membuatnya kembali?

Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif mengatakan, kembalinya sang Letjen karena ia mempunya ekspektasi politik sendiri yang terhenti di era reformasi. "Sejak Orde Baru, kita kan mengenalnya bak rising star yang punya ekspektasi sendiri. Tapi, reformasi menghentikan sementara ekspektasi politiknya. Dan sekarang, ada second wind yang membuat orang lupa dengan apa yang terjadi di masa lalu. Lupanya publik, memberi peluang baginya untuk kembali meretas karier lama yang tertunda," kata Yudi kepada Kompas.com, Selasa (15/7).

Lalu, apa, siapa, dan bagaimana sosok Prabowo Subianto Djojohadikusumo? Bapak satu anak, Ragowo Hadi Prasetyo itu memulai kariernya dengan menempuh pendidikan di Akabri tahun 1974. Pendidikan perang khusus di Amerika Serikat dan Latihan Khusus Antiteroris di Jerman pun dienyamnya.

Pria kelahiran 17 Oktober 1951 itu tercatat sebagai anggota Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Tim ini saat di Timor Timur menewaskan Presiden Fretilin Nicolao Lobato. Prabowo, yang merupakan putra tokoh nasional Prof Soemitro Djojohadikusumo ini, pernah menjabat sejumlah posisi 'seksi', di antaranya Wadan Detasemen 81/Kopassus, Dan Detasemen 81/Kopassus, Danyon 328 Kujang II/Kostrad, Kepala Staf Brigif Linud 17/Kostrad, dan Danjen Kopassus tahun 1996-1998.

Karier militer tertinggi yang dicapai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia itu adalah Pangkostrad tahun 1998. Pada tahun yang sama pula ia dimutasi menjadi Dansesko ABRI dan dinonaktifkan tahun 1998, tepat ketika sang mertua lengser dari singgasananya. Prabowo juga sempat diperiksa Dewan Kehormatan Perwira (DKP) pada 21 Agustus 1998 berkaitan dengan kasus penculikan dan penyekapan sejumlah aktivis.

Saat dikonfirmasi dugaan keterlibatannya dengan kasus tersebut, Prabowo menyerahkan penilaiannya kepada masyarakat. "Kita sedang menghadapi kondisi bangsa yang sulit. Saya hanya ingin menjawab kebutuhan bangsa dan berbuat lebih baik. Silakan rakyat yang menilai. Saya ingin melihat ke depan, hati nurani saya bersih. Saya berdiri di atas keyakinan saya," kata Prabowo kepada wartawan, Senin (14/7) kemarin.


Editor :