Sumidjan Bersyukur Aib itu Terbongkar

Sumber : - | Author : PERSDA NETWORK/BIAN HARNANSA
Sumidjan dan Hamzah MD beberapa waktu lalu mendatangi gedung KPK. Ia meminta agar kasus KKN di Bontang, dituntaskan
PERAIH penghargaan Tiga Pilar Kemitraan Award, Sumidjan, mengaku bersyukur atas terungkapnya kasus suap yang menimpa jaksa Urip Tri Gunawan (UTG). Kenapa lelaki itu bersyukur? Ternyata, Sumidjan mengaku jengkel dengan sikap Jampidsus Kemas Yahya Rahman yang dianggap tidak mengakomodir aspirasi yang hendak disampaikannya.
Beberapa pekan lalu, Sumidjan sengaja datang ke gedung Kejaksaan Agung bersama Hamzah MD --sang koruptor insyaf dari Bontang-- dan puluhan aktivis lainnya, terkait dengan kasus KKN di Bontang yang tak juga dibongkar-bongkar kejaksaan. Padahal, Sumidjan sudah berulangkali menyerahkan berkas-berkas berisi data-data pendukung ke Kejaksaan Agung. "Nah ketika kami mau menghadap, Pak Kemas katanya mau sembayang dulu. Setelah kami tunggu, ternyata enggak muncul juga," ungkapnya.
Gara-gara itu, hati Sumidjan dan Hamzah MD merasa kesal. Ia kecewa berat karena Kemas tak mau menerimanya. "Sebagai rakyat kecil, hati saya benar-benar terpukul. Maksud saya kan ingin menciptakan pemerintahan yang bersih dengan membantu Kejaksaan Agung. Tapi tanggapan mereka seperti itu," kenang Sumidjan, Walikota Lira, Bontang ketika dihubungi Persda Network via telepon.
Atas kekecawaan itu, Sumidjan dan Hamzah MD mengaku segera berdoa. Ia memohon kepada Tuhan agar para jaksa bekerja profesional dan menggunakan hati nuraninya. "Terus terang, kami sempat berdoa agar Tuhan membukakan mata hati mereka. Dan sekarang aib itu sudah terbongkar. Tuhan Maha Besar.... Coba saja, lihat apa yang akan terjadi kepada mereka ke depan nanti jika mereka tidak mengunakan hati nurani. Hukum alam pasti berjalan...dan Tuhan akan membongkar aib mereka cepat atau lambat," kata Sumidjan.
Menurut Sumidjan, dengan terungkapnya kasus penyuapan terhadap jaksa UTG, menunjukkan bahwa lembaga Kejaksaan Agung benar-benar tidak kredibel di mata masyarakat. "Dugaan-dugaan itu ternyata bukan isapan jempol. Sekarang terserah mereka. Jabatan itu amanah dan pasti akan dimintai pertanggung jawaban di depan Tuhan. Siapapun yang menyelewengkan jabatan, berarti ia telah menipu Tuhan, menipu dirinya, menipu rakyat dan menipu negara. Konsekuensinya jelas dan hukum alam akan bicara," jelas Sumidjan.
Ia berharap, ke depan para pejabat negara yang mendapatkan kepercayaan dari rakyat, benar-benar memegang teguh amanah yang diberikan kepadanya. "Mengapa? Secuil uang rakyat yang diselewengkan, berarti kita sama dengan menipu ratusan juta penduduk Indonesia. Lalu bagaimana cara meminta maaf kepada rakyat? Apakah cukup memasang iklan permintaan maaf di koran setahun sekali? Saya hanya berharap kepada mereka-mereka yang sedang menjabat agar memikirkan nasib anak istri mereka. Kalau aib sudah dibuka, bagaimana perasaan istri dan anak-anak mereka ya?" tanyanya. (Persda Network/BEC)

PRODUK BARU
GALERI
MODIFIKASI






